Motif Sosial



MOTIF SOSIAL
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas BK Sosial
Dosen:Cici Yunia,S.Pd,M.Pd


DisusunOleh :
Liza Kusdartati           (1501015068)
Rahmi Amalia             (1601015081)
Ummu Nabilah            (1601015013)

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF.DR.HAMKA
JAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
      Manusia adalah makhluk soaial yang membutuhkan interaksi  dengan manusia lain dan lingkungan sosial disekitarnya.Kebutuhan-kebutuhan hidup manusia dipengaruhi adanya motif atau dorongan baik dari dalam diri sendiri maupun dari luar diri manusia baik berupa benda maupun situasi yang terjadi dilingkungan sekitarnya yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu yang untuk mencapai kebutuhan hidupnya.
      Setiap tingkah laku manusia memiliki pengaruh terhadap lingkungannya.untuk mengatur tingkah laku manusia dalam kehidupan bermasyarakat agar teratur masyarakat membuat aturan atau norma yang membatasi tingkah laku manusia agar dapat diterima dilingkunganya sehingga seseorang dapat bertingkah laku dengan wajar sesuai aturan yang berlaku.Dalam kehidupan bermasyarakat  kadang terjadi hubungan timbal balik, pertemanan, dan memungkinkan terjadinya kesepakatandalam kehidupan sehari-hari.   Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak lepas dari peristiwa yang memberikan pelajaran baik yang menyenangkan, mengharukan, mengecewakan atau menyedihkan.Seseorang dapat  memahami apa yang dirasakan orang lain, merasa peduli terhadap perasaan orang lain tetapi tidak terhanyut dalam suasana yang sedang dihadapi orang lain.
B.     Rumusan Masalah:
1.      Apa pengertian motif sosial, faktor-faktor yang mempengaruhinya ?
2.      Teori-teori para ahli tentang motif sosial ?
3.       Macam-macam dan bentuk motif sosial ?
4.      Pengaruh motif, memotivasi orang lain, dan pengamatan terhadap orang lain ?
C.     Tujuan:
1.      Untuk mengetahui pengertian motif sosial, macam-macam motif sosial dan faktor-faktor yang mempengaruhi motif sosial
2.      Untuk mengetahui teori-teori para ahli tentang motif sosial
3.      Mengenal macam-macam dan bentuk motif
4.      Mengetahui pengaruh motif, memotivasi orang lain, dan pengamatan terhadap orang lain


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Konsep Dasar Motif Sosial
      Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan  interaksi dengan manusia lain dan lingkungan sosial sekitarnya. manusia berusaha melakukan sesuatu untuk mememnuhi segala kebutuhannya kebutuhan manusia tersebut dipengaruhi oleh adanya motif atau dorongan dari dalam dan dari luar diri manusia baik berupa benda maupun situasi yang trerjadi di lingkungan sekitarnya.
1.      Pengertian Motif
      Motif merupakan sesuatu yang melingkupi semua penggerak, alasan, atau dorongan dalam diri manusia untuk berbuat sesuatu. Motif manusia merupakan dorongan, keinginan, hasrat, dan tenaga penggerak lainnya yang berasal dari dalam dirinya untuk melakukan sesuatu. Motif-motif itu memberikan tujuan dan arahan pada tingkah laku  manusia dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan sehari-hari juga mempunyai motif tersendiri. Motif-motif manusia dapat bekerja secara sadar dan tidak sadar bagi manusia.
      Pada prinsipnya, motif adalah suatu konstruksi yang potensial dan laten,  yang dibentuk oleh pengalaman yang secara relatif dapat bertahan meskkipun kemungkinan berubah  masih ada, dan berfungsi menggerakan serta mengarahkan prilaku ketujuan tertentu. [1]artinya, motif merupakan dorongan  yang sudah terikat pada satu tujuan. Motif mencangkup semua penggerak, alasan, atau dorongan pada doiri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu.
      Gerungan (2010) mendefinisikan motif sebagai suatu pengerttian yang melengkapi semua penggerak alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu. Dengan pengertian  bahwa semua tingkah laku manusia. [2]
      Lindzey, Hall, Thompson (1975) mendefinisikan motif sebagai sesuatu yang menimbulkan tingkah laku. Adapun Atkinison (1958) mengartikan motif sebagai posisi laten, yang berusaha dengan kuat untuk menuju tujuan tertentu. Tujuan ini dapat berupa prestasi, afiliasi, ataupun kekuasaan.[3]
2.      Batasan Motif Sosial
      Motif sosial, menurut lindgren adalah motif yang dipelajari melalui kontak orang lain dan lingkungan individu memegang peranan yang penting didalamnya.[4]
      Menurut Barkowitz (1969), motif sosial adalah motif yang mendasari aktifitas individu dalam bereaksai terhadap orang lain. Selanjutnya, Max Crimon dan Messick (1976) menyatakan bahwaseseorang menunjukan motif sosial jika dalam membuat pilihan, ia memperhitungkan akibatnya bagi orang lain. Adapun Heckhausen  (1980) berpendapat bahwa motif sosial adalah motif yang menunjukan bahwa tujuan yang ingin dicapai mempunyai intreraksi dengan orang lain.[5]
       Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa motif sosial adalah yang timbulya untuk memenuhi kebutuhan individu dalam hubunganya dengan lingkungan sosial.
3.      Alasan Munculnya Motif
      Motif sosial timbul karena adanya kebutuhan yang harus dipenuhi bagi setiap individu. Kebutuhan dapat dipandang sebagai sebagai kekurangan adanya sesuatu dan hal ini menuntut pemenuhannya dengan segera agar dapat mendapatkan keseimbangan. Situasi kekurangan ini berfungsi sebagai suatu kekuatan atau dorongan alasan yang mnenyebabkan seseorang bertindak untuk memenuhi kebutuhan.\
      Mc. Clelland (1967) berpendapat bahwa untuk menemukan motif yang mendasari susatu perbuatan, cara yang terbaik adalah dengan menganalisis motif yang ada dalam fantasin seseorang.
      Wood Worth dan Marquis membedakan motif atas dua bentuk, yaitu sebagai berikut.[6]
a.       Motif yang terkandung pada keadaan  dalam jasmani, dan hal ini merupakan kebutuhan organik.
b.      Motif yang tergantung pada hubungan individu dengan lingkungannya. Motif ini dibedakan menjadi:
1)      Motif darurat, yaitu motif yang membutuhkan tindakan segera karena keadaan sekitarnya yang menuntut demikian, misalnya kegiatan untuk melepas diri dari bahaya.
2)      Motif objektif, yaitu motif yang berhubungan langsung dengan lingkungan, baik berupa individu maupun benda misalnya penghargaan,  memiliki mobil, rumah bagus, dan sebagainnya.
4.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motif sosial
Teevan dan Smith mengemukakan  sumber perkembangan motif sosial, yaitu berikut.[7]
a.       Interaksi Ibu dan Anak
Situasi dalam keluarga secara langsung dan tidak langsun akan membentuk kualitas interaksi antara ibu dengan anak. Banyak bukti  yang menjelasakan bahwa hubungan ibu dengan ayah yang buruk akan menyebabkan hubungan ibu dengan anak juga buruk, dilihat dari komunikasi, ekspresi dan ikatan emosi.
b.      Interaksi Anak dan Seluruh Keluarga
Keluarga merupakan baris pertama dan utama dalam berbagai rangkaian proses interaksi sosial yang dialami individu selama hidupnya hal tersebut dikarenkan keluarga sebagai komponen terkecil dari struktur masyarakat merupakan tempat pertama bagi individu mengenal manusia lain diluar dirinya. Peran keluarga tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan segala kebutuhan anak yang berwujud materi, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan psikologis dan sosiologis.
Kebutuhan psikologis dan sosiologis anak yang meliputi penghayatan rohani psikis dan sosial yang di alami anak sebagai suasana, sikap bergaul, antar manusia yang berkaitan anak dalam keluarga, kemudian menjadi dasar untuk pergaulannya dengan masyarakat sosial yang lebih luas. Wujud nyata dari hal ini itu di berikan dalam bentuk kasih sayang yang memberi anak rasa nyaman, rasa di terima, serta rasa diakui keberadaanya. Dengan kata lain anak akan belajar bahwan ia tidak hanya harus tunduk pada prinsip kenyataan untuk mendapatkan kesenangan tetapi juga harus mencoba berkelakuan sesuai perintah-perintah moral dari kedua orang tua.
c.       Interaksi Anak dengan Masyarakat Luas
Semua yang didapatkan anak dari lingkungan kekeluargaanya merupakan dasar-dasar untuk menjalani interaksi sosial yang lebih kompleks di lingkungan masyarakatnya dengan banyaknya manusia yang dikenal anak semakin luas pergaulan anak. Akibatnya hal yang diberikan oleh keluarganya akan lebih  berkembang sehingga dapat menyempurnakan interaksi sosialnya anak akan lebih banyak menyesuaikan diri dengan keragaman perilaku yan di temuinya didalam masyarakat. Dari penyesuaian diri anak tersebut, anak mendapatkan pengalaman baru yang sangat berharga untuk pengembangan kepribadian lebih lanjut pengalaman-pengalaman tersebut menjadi dorongan bagi anak untuk lebih mengaktifkan diri menjalani interaksi sosialnya. Akhirnya, pengalaman-pengalaman tersebut menjadi simbol-simbol yang memiliki nilai tersendiri bagi anak

B.     Teori Pendekatan Dasar pada Motivasi
S.S. Sagent dan R.C. William Son (1966) mencoba menelusuri berbagai pendekatan, teori dan konsep tentang motif, yaitu teori insting, konsep dorongan, teori libido, perilaku otonomi dan motif sentral.[8] Teori dan konsep tersebut adalah sebagai berikut.
1.      Teori Insting
      Berfungsi untuk menerapkan perilaku manusia, teori ini mulai ditinggalkan orang karna pengertian antropologi dan sosiologi membuktikan bahwa perilaku manusia sangat berfariasi tergantung pada lingkungan sehingga tidak dapat dijelaskan dengan instring. Masih tetap dipakai untuk perilaku yang jelas di turunkan, tidak dipelajari, dan universdal bagi makhluk tertentu.
2.      Konsep Dorongan
      Pakar psikologi mencari penyebab perilaku pada “ketegangan” yang terjadi pada otot-ototo dan kelenjar-kelenjar pada saat haus, lapar, sebagainya. Ketegangan ini menimbulkan dorongan untuk berperilaku tertentu umumnya dorongan berkaitan dengan perilaku yang bersifat biologis dan fisiologis, misalnya makan, minum, tidur, seks, dan sebagainnya.
3.      Teori Libido dan Ketidak Sadaran dari Sigmun Freud
      Teori ini menyatakan bahwa motif bersumber pada stress, internal yang terdiri dari insting dan dorongan yang bekerja dalam alam ketidak sadaran manusia. Dalam teori Sigmun Freud yang sangat berorientasi biologis ini, semua insting dan dorongan bermuara pada libido seksualis (dorongan seks) yang sebagian besar tidak dapat dikendalikan oleh orang yang bersangkutan ( karena bekerjanya dalam alam ketidak sadaran.
4.      Perilaku Purposif dan Konflik
      Pengaru psikologi Gestalt ( Gestalt adalah istilah bahasa jerman, yang artinya keseluruhan) terhadap behaviorisme adalah bahwa seseorang mulai lebih mementingkan perilaku moral, (keseluruhan, seperti makan dan berlari) dari pada berperilaku molekuler (bagian dari perilaku keseluruhan seperti mengeluarkan liur dan menggerakan otot).
      Edward Chase Tolman menyatkan bahwa perilaku tidak hanya ditentukan oleh rangsangan dari luar atau stimulus tetapi juga ditentukan oleh organisme atau orang tersebut. Jadi, orang bukan hanya memerhatikan stimulusnya melainkan memilih sendiri reaksinya.
5.      Otonomi Fungsional
      G.W. Alport (1961) bahwa motif pada orang dewasa tumbuh dari sistem yang mendahuluinya, tetapi berfungsi lepas dari sistem pendahulu itu dengan perkataan lain, motif ini berfungsi sesuai dengan tujuannya terlepas dari motif-motif asalnya, misalnya seoran penjual soto lambat laun penjual soto memiliki berbagai cabang sehinggta tujuannya berjualan bukan lagi mencari nafkah melainkan untuk mencari kepuasan diri.
6.      Motif Sentral
      Banyak pakar psikologi yang meragukan adanya satu motif sentral yang dapat merangkum semua jenis motif manusia. Goldstein (1939) mengungkapkan “aktualisasi” sebagai motif tunggal pada manusia menurutnya setiap perilakun didasarkan pada kebutuhan untuk melindungi diri ( self ) dan mengurangi kecemasan serta mencari kemampanan  bagi dirinya sendiri. Motif ini paling terlibat pada paham-paham keagamaan seperti yahudi, islam, kristen, dan budha.
      Pengembangan dari motif “aktualisasi diri” menurut A.H Maslow (1959) memaparkan motiv tertinggi di atas motiv lain yang tersusun secara yerarkis (motiv primer atau motis fisiologis, motiv rasa aman, motiv memiliki, motiv hargadiri)

C.     Klasifikasi, Macam-macam dan Bentuk Motif Sosial
1.      Klasifikasi Motif
     Gardner Lindzey, Calvin S. Hall,  dan Richard Thompson (1978) mengklasifikasi motif dalam dua hal berikut.[9]
a.       Derives adalah yang mendorong untuk bertindak. Drives yang merupakan proses organik internal dari drives primer atau dirves yang tidak di pelajari. Drives yang lain diperoleh melalui belajar.
b.      Incentives adalah benda atau situasi (keadaan) yang berbeda didalam lingkungan sekitar yang merangsang tingkah laku. Incentives merupakan penyebab individu untuk bertindak
2.      Macam-macam Motif
     Sherif membedakan motif menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.[10]
a.       Motif Biogenetis
     Motif biogenetis ini bercorak universal dan kuran terlibat dengan lingkungan kebudayaan tempat manusia berada dan berkembang. Motif biogenesis ini ada dalam diri orang dan berkembang dengan sendirinya. Artinya, motif biogenetis berkembang dalam diri seseorang dan berasal dari organismenya sebagai makhluk biologis.
b.      Motif Sosiogenetis
     Motif sosiogenetis dalah motif yang dipelajari orang dan berasal dari lingkungan kebudayaan tempat orang itu berada dan berkembang. Motif sosiogenetis tidak berkembang dengan sendirinya tetapi berdasarkan interaksi sosial dengan orang-orang.



c.       Motif Teorgenetis
     Motif teogenetis adalah motif yang berasal dari interaksi manusia dengan Tuhan, seperti yang terwujud dalam ibadahnya dan dalam kehidupannya sehari-hari saat ia berusaha meralisasikan norma-norma agama.
3.      Bentuk Motif
Menurut Gerungan, bentuk motif tediri dari dua macam.[11]
a.       Motif Tunggal
     Motif tunggal dapat di contohkan, misalnya seseorang mendengarkan berita radio atau televisi mungkin mempunyai motifn umum seperti motif yang di uraikan di atas, tetapi mungkin juga mempunyai motif lain tertentu yang berkaitan dengan pekerjaan dikantornya yang jelas bahwa motif manusia mempunyai peran yang sangat besar dalam kegiatannya
b.      Motif Bergabung
     Motif bergabung dapat dicontohkah apabila seseorang menjadi anggota kelompok perkumpulan atau organisasi. Ia mungkin ingin mengenal lebih dekat beberapa orang anggota kelompok.
     Dengan demikian orang tersebut mungkin mempunyai macam-macam bentuk motif yang sekaligus bekerja di balik perbuatan yang menggabungkan diri dalam organisasi, tetapi perbuatan itu terdorong dengan satu motif utama dan beberapa motif tambahan yang mungkin mempunyai rincian dari motif utama itu.

D.    Pengaruh Motif, Memotivasi Orang Lain, dan Pengamatan terhadap Orang Lain
1.      Pengaruh Motif dalam Pengamatan
     Motif, sikap, dan pengamatan merupakan bagian yang saling berkaitan dalam organisasi kepribadian. Sikap timbul merupakan fungsi dari motif.
     Pengamatan merupakan proses belajar mengenai segala sesuatu yang ada disekitar dengan menggunakan alat indera. Pengamatan dalam artian sempit merupakan proses menginterpretasikan suatu dengan jalan mengenai “tanda-tanda” sebagai alatnya dan pengertian tertentu sebagai tujuan pengamatan.[12]
     Proses pengamatan berfungsi membantu pencapaian pemuasan kebutuhan manusia untuk tetap melestarikan hidupnya. Untuk itu manusia memiliki indra untuk mengamati segala sesuatu yang ada dalam lingkungannya, hasil dari pengamatam itu memunculkan pesan dan tanggapannya.
a.       Tanggapan sebagai Pengaruh Motif
     Tanggapan disebut “laten” tersembunyi, belum terungkap apabila tanggapan tersebut ada dibawah sadar dan tidak sadar, dan suatu saat dapat di sadarkan kembali. Adapun tanggapan tersebut “Aktual” apabila tanggapan tersebut didasari.
b.      Fantasi sebagai Pengaruh Motif
     Fantasi adalah dasar jiwa untuk membentuk atau menciptakan tanggapan baru dengan bantuan tanggapan yang sudah ada.
     Ilmu jiwa modern memberi batasan bahwa fantasi adalah daya jiwa untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Fantasi sebagai kemampuan jiwa manusia terjadi dalam dua cara yaitu:
1)      Secara di sadari yaitu apabila individu menyadarinya
2)      Secara tidak di sadari yaitu apabila individu tidak secara sadar telah di tuntun oleh fantasinya.
2.      Memotivasi Orang Lain
     Menurut Sartain, North, Strange, dan Capman (1973) beberapa cara untuk memotivasi orang lain adalah sebagai berikut.[13]
a.       Memotivasi dengan Kekerasan
     Contoh terjadi dalam Angkatan Bersenjata yaitu seorang pemimpin akan mengancam para serdadu dengan hukuman jika mereka tidak atau kurang disiplin. Cara yang digunakan tersebut menimbulkan perasaan tidak senang bagi subjek yang terkenal.
     Dalam masyarakat yang demokratis cara seperti ini kurang begitu tepat sebab orang akan mimiliki sifat kebergantungan besar dan kurang mampu membutuhkan kesadaran.



b.      Memotivasi dengan Bujukan
     Cara kedua dengan memberikan bujukan atau hadiah apabila mengerjakan sesuatu yang diperintahkan. Bujukan atau hadiah dapat berupa.
1)      Tambahan upah
2)      Pemberian nilai yang baik
3)      Peningkatan status
Cara ini akan berhasil, tetapi menimbulkan sifat kebergantungan misalnya para pemburuh bergantung pada amajikan, murid bergantung pada gurunya.
c.       Motivasi dengan Identifikasi 
     Cara ini merupakian cara yang terbaik untuk memotivasi orang lain. Dalam hal ini mereka berbuat sesuatu dengan ras apercaya diri sendiri bahwa hal hal yang dilakukan itu untuk mencapai tujuan tertentu dan adanya keinginan dari dalam. Misalnya seorang murid belajar buka karena bujukan guru melaikan karena ingin mendapatkan prestasi belajar yang baik dan mendapat nilai yang tinggi.
3.      Pengamatan terhadap Orang Lain
     Menurut Colley, George Math. Mereka berpendapat bahwa dalam diri anak awalnya berkembang kesadaran tentang dirinya sebagai satu kesatuan yang terpisah dan berbeda dengan lingkungannya karna orang lain merespon dirinya sebagai objek yang terpisah dan sifatnya otonom. Sejak perumusan banyak penelitian dan teori dikembangkan mengenai hakikat konsekuensi pengamatan antar pribadi. Rogers (1942) yang secara keseluruhan dibangun dalam teori Math bahwa konsep “Aku” itu sangat penting dalam proses penysuaian diri, dan evaluasi tentang diri sendiri mengalami perubahan sesuai dengan perubahan evaluasi orang lain terhadap dirinya.






BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Motif sosial adalah keadaan motif kyang kompleks yang merupakan sumber dari banyak tindakan manusia. Motif-motif itu disebut sosial karena mereka dipelajari dalam kelompok, khususnya kelompok keluarga ketika mereka tumbuh sebagai anak. Karena motif ini melibatkan orang lain untuk berinteraksi. Dengan kata lain, motif suatu yang melengkapinsemua penggerak alasan-alasan dan dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu.
Motif terbagi tiga, yaitu: Motif biogenetis yaitu motif yang bercorak universal dan kurang terikat dengan lingkungan kebudayaannya tempat tinggal manusia itu berada dan berkembang. Motif biogenetis ini adalah asli di dalam diri orang dan berkembang dengan sendirinya. Motif sosiogenetis adalah motif yang dipelajari orang dan berasal dari lingkungan kebudayaan tempat orang itu berada dan berkembang. Motif sosiogenetis tidak kembang dengan sendirin tetapi berdasarkan interaksi sosial dengan orang-orang atau hasil kebudayaan orang.  Motif teogenetis adalah motif yang berasal dari interaksi antara manusia dengan tuhan dalam ibadahnya dan dalam kehidupan nya sehari-hari dimana ia berusaha merealisasikan norma-norma agamannya. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi motif sosial meliputi cara-cara mengasuhanak (yang meliputi interaksi antara ibu dengan anak, anak dengan keluarga, dan anak dengan masyarakat luas.
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memotivasi seseorang yaitu dapat dilakukan dengan memotivasi dengan kekerasan, memotivasi dengan bujukan, dan memotivasi dengan identifikasi 






DAFTAR PUSTAKA

Syamsul, Bambang. 2015. Psikologi Sosial. Bandung: CV Pustaka Setia.
Sri Mulyani Martania, 1984, Motif Sosial Remaja Suku Jawa dan Keturunandi Beberapa SMA Yogyakarta, Yogyakarta:Gajah Mada University Pers
Gardner Linedzey, Calvin S. Hall, & Richard F. Thompson, 1978, Psyhology New York: Worth Publishers Inc
Kartini Kartono, 1996, Psikologi Umum, Bandung: Mandar Maju


[1] Sri Mulyani Martania, 1984, Motif Sosial Remaja Suku Jawa dan Keturunandi Beberapa SMA Yogyakarta, Yogyakarta:Gajah Mada University Pers, hlm.122.
[2] Loc.Cit., W.A. Gerungan, hlm. 151.
[3] Loc.Cit., Abu Ahmadi, hlm. 177.
[4] Loc.Cit., Abu ahmadi, hlm. 178.
[5] Ibid.
[6] LoC., Abu Ahmadi, hlm. 180.
[7] OP.Cit., Abu Ahmadi, hlm. 188.
[8] Loc., Cit Sarwono, Sarlino, hlm. 55.
[9]Gardner Linedzey, Calvin S. Hall, & Richard F. Thompson, 1978, Psyhology New York: Worth Publishers Inc., hlm. 339.
[10] Loc. Cit., Abu Ahmadi, hlm. 180.
[11] Loc. Cit., W.A. Gerungan, hlm. 152-153
[12] Kartini Kartono, 1996, Psikologi Umum, Bandung: Mandar Maju, hlm. 49.
[13] Loc. Cit., Abu Ahmadi , Psikologi Sosial, hlm. 187.

Komentar